Dunia dan Akhirat itu Satu Paket

July 30, 2011
Kehidupan di dunia dan akherat merupakan satu kesatuan paket yang tidak bisa dipisah-pisahkan, untuk itu yang harus dilakukan oleh orang yang beriman adalah melakukan segala aktivitas hidup di dunia dengan konteks untuk kehidupan akherat. Dengan kalimat sederhana adalah "upayakan sukses akheratmu melalui duniamu", jadi aktivitas dunia harus diarahkan untuk meraih sukses akherat.

Dalam konteks keilmuan, tidak bisa orang beriman memilah-milah dengan istilah ilmu dunia dan ilmu akherat, semua ilmu adalah untuk akherat, dan semua ilmu harus dikontekskan untuk menghayati kebesaran Allah. Coba fikirkan ibadah kita, masjid kita, kesehatan kita, semua berhubungan dengan dunia (untuk akherat), kita tidak bisa mengatakan: ilmu bikin karpet/sajadah adalah ilmu dunia (mau sholat tanpa karpet dan sajadah), ilmu tenun dan jahit adalah ilmu dunia (mau sholat tanpa baju?), ilmu bikin semen, genteng, dst adalah ilmu dunia (masjid kita terbuat dari apa?), ilmu bikin pesawat terbang adalah ilmu dunia (mau ke Makah jalan kaki? Tanpa sandal, karena sandal adalah ilmu dunia?).

Itulah sebabnya Rasulullah mengatakan "thalabul ilmi minal lahdi ilal lahdi - carilah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat", juga "thalabul ilmi walau bis siin - carilah ilmu walau sampai ke negeri china". Kalau ke Cina saya yakin bukan mencari ilmu ketuhanan, tetapi ilmu "non ketuhanan - yang harus dikontektualkan ke dalam masalah ketuhanan".

Semoga khayalanku ini tidak keliru, amien. Rr

 

Membuka Aib dan Prasangka Tidak Baik

May 29, 2011
Kajian Minggu pagi, 29 Mei 2011, di Masjid Nurjannah membahas masalah pentingnya merahasiakan aib orang serta menghindari prasangka tidak baik. Kajian ini disampaikan oleh salah satu Jamaah menggantikan pembicara utama yang kebetulan tidak bisa hadir. Kajian ini berangkat dari pesan Rasulullah untuk merahasiakan aib sesama, dikatakan oleh Rasulullah bahwa membuka aib sesama diibaratkan sebagai memakan bangkai saudaranya sendiri. Topik ini sepintas tidak populer karena hampir semua umat Islam sudah memahaminya. Namun demikian topik ini dipandang perlu untuk diangkat kembali mengingat masih sangat banyak yang tidak "ngeh" dengan pesan Rasulullah tersebut. Aib adalah suatu ketidakbaikan yang jika diungkap yang bersangkutan merasa malu, tidak nyaman, atau bahkan merasa terhina.

Dalam majlis pengajian, ceramah tarawih dan subuh di bulan ramadhan, bahkan khotbah Jum'at, kadang-kadang pembicara tanpa menyadari terjebak pada pembicaraan yang dapat dikategorikan membuka aib sesama. Pada kesempatan kajian minggu pagi ini, Jamaah kembali diingatkan untuk menjaga diri dan berhati-hati jangan sampai melakukan larangan Allah/Rasulullah tentang membuka aib sesama, agar jangan sampai amal ibadahnya tertelan habis, bahkan defisit, oleh kebiasaan membuka aib sesama yang memang sangat nikmat untuk dilakukan ini.

Masalah kedua yang diangkat dalam kajian Minggu pagi ini adalah, tentang larangan berprasangka buruk, terutama ketika seseorang tertimpa musibah. Kebiasaan orang adalah menghubung-hubungkan suatu musibah dengan "DUGAAN - YANG BELUM TENTU BENAR" atas dosa yang dilakukan oleh seseorang, sehingga musibah yang menimpa seseorang sangat mudah berbelok menjadi fitnah. Padahal Allah, Rasulullah, dan Sahabat-sahabat Rasulullah, mengajarkan kepada umatnya untuk berprasangka baik terhadap musibah yang sedang menimpa umat, karena musibah bisa menimpa siapa saja, bahkan orang-orang yang dipandang baikpun bisa terkena musibah. Untuk itu ketika musibah datang kita hanya diajari untuk mengucapkan Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji'uun, hanya ini, tidak lebih dan tidak kurang, tidak ada prasangka apalagi fitnah.

Semoga Allah memberkahi seluruh kaum Muslimin, amien. Srr.
 

Hikmah Silaturrakhim

May 27, 2011
Rasulullah S.A.W. bersabda bahwa silaturrakhim akan melapangkan rizki dan memperpanjang umur. Sangat indah dan sangat penting anjuran Rasulullah ini untuk diperhatikan dan diamalkan. Perlu kita sadari bahwa Allah S.W.T. menganugerahkan rahmat-Nya dan rizki-Nya selalu melalui perantaraan manusia, dan tidak pernah menurunkan langsung tanpa perantaraan manusia. Marilah kita renungkan sekali lagi, dari mana rizki yang kita dapat, tidak ada yang tanpa melalui perantaraan manusia, oleh sebab itu sabda Rasulullah S.A.W. tersebut tidak terbantahkan lagi, maka siapapun yang menghendaki mendapatkan keluasan rizki, harus rajin bersilaturakhim untuk memepererat dan memperluas persaudaraan, bahasa orang sekarang harus rajin membangun "jaringan atau jejaring atau networking".

Bagaimana dengan panjang umur? Jatah umur sudah ditakdirkan oleh Allah, Rasulullah sendiri umurnya juga tidak teramat sangat panjang, sehingga yang terpenting adalah bagaimana cara mengisi umur, agar umur yang singkat ini penuh dengan kebaikan yang nantinya bisa dipakai sebagai bekal untuk menghadap Allah S.W.T. Tetapi kembali ke soal umur panjang, umur bisa banyak dipengaruhi oleh urusan makanan dan urusan psikologis. Jika makanan tidak terkendali, jiwa tidak tenang karena banyak permasalahan hidup serta kurang berserah diri kepada Allah, kemungkinan terserang penyakit akan menjadi lebih tinggi. Nah dengan silaturakhim, seseorang akan bisa banyak belajar dari orang lain tentang bagaimana seharusnya menjalani hidup, apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan. Hidup menjadi tenang, seimbang dan "berbunga-bunga", penyakit menjauh dan insya Allah umur akan menjadi panjang.

Dengan mengikuti tuntunan Allah dan Rasulullah hidup akan menjadi lebih indah, karena hidup menjadi sesuai dengan kaidah-kaidah alam, sesuai dengan sunatullah. Segala aspek kehidupan ini telah dibuat serba otomatis oleh Allah, yang aturan-aturan otomatisasinya adalah sebagaimana ketentuan-ketentuan Allah yang tertera dalam Al Qur'an dan sunah Rasul.
 

Blog Archive

 

Make a free website with Yola