Kehidupan di dunia dan akherat merupakan satu kesatuan paket yang tidak bisa dipisah-pisahkan, untuk itu yang harus dilakukan oleh orang yang beriman adalah melakukan segala aktivitas hidup di dunia dengan konteks untuk kehidupan akherat. Dengan kalimat sederhana adalah "upayakan sukses akheratmu melalui duniamu", jadi aktivitas dunia harus diarahkan untuk meraih sukses akherat.

Dalam konteks keilmuan, tidak bisa orang beriman memilah-milah dengan istilah ilmu dunia dan ilmu akherat, semua ilmu adalah untuk akherat, dan semua ilmu harus dikontekskan untuk menghayati kebesaran Allah. Coba fikirkan ibadah kita, masjid kita, kesehatan kita, semua berhubungan dengan dunia (untuk akherat), kita tidak bisa mengatakan: ilmu bikin karpet/sajadah adalah ilmu dunia (mau sholat tanpa karpet dan sajadah), ilmu tenun dan jahit adalah ilmu dunia (mau sholat tanpa baju?), ilmu bikin semen, genteng, dst adalah ilmu dunia (masjid kita terbuat dari apa?), ilmu bikin pesawat terbang adalah ilmu dunia (mau ke Makah jalan kaki? Tanpa sandal, karena sandal adalah ilmu dunia?).

Itulah sebabnya Rasulullah mengatakan "thalabul ilmi minal lahdi ilal lahdi - carilah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat", juga "thalabul ilmi walau bis siin - carilah ilmu walau sampai ke negeri china". Kalau ke Cina saya yakin bukan mencari ilmu ketuhanan, tetapi ilmu "non ketuhanan - yang harus dikontektualkan ke dalam masalah ketuhanan".

Semoga khayalanku ini tidak keliru, amien. Rr